Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2018

MASSENREMPULU

Aksara menindih daun-daun lontar Manusia memintal Kapas jadi benang sejarah, menyimpul saluan nene maka terbukalah pintu-pintu tabir peradaban lapa padang appa sulapa Tempat Manusia berdiri menghadap empat penjuru mata angin Tammaseung di Baroko membentang rarik disambung belajen Diikatlah    daerah kekuasaannya “Lepong Padang” Nene Matindo Dama di Lalono  cidokkoi batu ariri Masing-masing Pake duduk di bawah payung kerajaannya Telunjuk Tangannya membangun kearifan dan Budaya Kembali Aksara menindih kertas putih Selisih abad terhitung dalam angka Bahasa semakin terpahat, Kuda-Kuda berganti robot mesin masa kini Kerbau tinggallah simbol, Peradaban terus menaiki tangga-tangga Puncak kemajuannya Baroko dan Duri menyatu dalam padu “3 Batu Papan” Duri, Enrekang dan Maiwa  sitoe pala’ lima  menyebut diri “Massenrempulu” Massenrempulu    Tana Rigalla Tana Riabbusungi
Aku mencintaimu dalam buku Menyebut namamu pada lembar-lembar baru Dalam dekapan kata-kata Tanpa berhenti tiap bersua titik Tanpa menanya saat tanda Tanya tiba Dan tetap menyeruh saat tanda seruh memerintah Karena aku paham selama aku membaca aku akan bertemu cinta Meski kebencian mendera Karena aku paham selama aku berlanjut aku tidak akan berakhir kehilangan kisah  Aku menemukan cinta dalam buku selamat hari buku Nasional                                                                                                                                    Harayaki Yosano                  ...

Kata-Kata

Aku yang tergila-gila karena kata-kata Sibuk menata kata seperti bermain puzlle Menghabiskan waktu bertemu aksara Menulis senja, purnama, cinta, dan rindu dalam narasi seperti mereka Aku luapkan semua isi nurani dan logikaku dalam kata-kata Meski kadang aku sendiri tak dapat menemukan makna Sebab ku buat serumit mungkin agar mata yang menjama buta makna Cukup aku yang tahu, namun pada kenyataan aku sendiri kehilangan makna Cukup menuruti judul puisi Wiji Tukul Kataku pun harus berbahasa “Istrahatlah Kata-Kata”                                                Harayaki Yosano
Apapun itu ... selama berwujud biru selama itupun bermuara ketenangan Hamparan Laut Hamparan Langit Walau diataranya ada yang tak nyata  Walau keduanya meminjam warna dari sinar sangsurya seperti Jingga pada senja yang menyapa Tak usah nelangsa sebab dalamnya ataupun karena luasnya Jangan berkutat ... sebab ilusi semesta memang seperti itu

KEPINGAN KACA KENANGAN

A ku belum membuang kepingan kaca kenangan di hari itu Walau 2.690 hari atau 64.560 jam atau 3.873.600 menit telah berlalu Selama itu aku menyimpan kunang-kunang akhir Desember Binar sayapnya masih bersemayam di ranting alang-alang hatiku Yang kau titipkan semasa kita berseragam abu-abu Bukankah waktu itu begitu lama ? Bukankah di Penghujung Desember sama sekali aku tidak membuat janji? Bukankah di malam pergantian tahun itu kita hanya berbicara sebatas pengakuan? Tapi selama itu aku menjaga ucapan Karena aku tidak ingin jadi  PEMULUNG KATA Seperti katamu, seperti kata-kata yang kau baca, seperti kalimat dalam tumpukan bukumu bahwa “kata-kata yang berbuah ucapan bukan lagi milik bibirmu tapi milik telinga pendengarnya.” Seperti itu pula aku merawat Waaahhh … kian menumbuh, kita pun larut dalam pergolakan masa Tetap, aku ingin menjadi pendengar keluh kesahmu dan aku ingin kau tetap menjadi pendengar mimpi-mimpi gilaku Kian menumbuh lagi Kita yang hilang dalam rutinita...

Kunang-Kunang Penghujung Desember

Di penghujung Desember, Ada Tarian kunang-kunang  menyentuh gelapnya malam Hadirkan pancaran kuning  sebagai penghibur hitam yang kesepian Mengantar tabir fantasi malam  Di Desa ini,  dibawah atap langit Berdinding gunung  menjulang tinggi Ada sepasang kekasih belajar merangkai deretan aksara untuk berucap bahasa cinta Seperti bahasa Khadijah pada Muhammad Seperti Bahasa Dewi  Cliodhna pada  Ciabahn Sama seperti semesta berbicara pada kehidupan  yang membuatnya berarti Sama seperti bahasa hujan pada Bumi yang membuatnya hidup Dan sama seperti bahasa tinta pada kertas yang membuatnya berbicara Kunang-kunang penghujung Desember Saksi  sepasang kekasih yang berucap pengakuan                                                                   ...

harap

segaris tulisan tak berjudul yg  ditumpahkan pada larik-larik puisi  Bisu makna, cukup tereja  yg ditata sedemikian hingga tak lain dan tak bukan hanya untuk aksara menindih selembar kertas putih "di Suatu waktu berselimut hitam ... menuntut kata berpijak pd HARAP: Q harap dibawah bintang yg sama ada mata anak Adam membaca pola rasi, wujud manipestasi tubuh Tuhan yg abstrak  Q harap indra anak Adam terpagar iman  bak rebung bambu yg terpagar oleh dirinya sendiri walau dalam  wujud yg tak sama Q harap jua pada suatu waktu berselimut hitam ada anak Hawa  menyulam makna dari riuhnya hempasan angin sepoi membentur alam."                                                                                         ...

Perempuan Bertanyak

Seperti apa perempuan inginmu dalam angan yang kau langitkan lelaki? Haruskah ia berparas ayu, menawan tatapmu dalam penjara matamu sendiri? Apakah ia perempuan Pelosok, bersimpai tradisi bersimpul adat? Duk.. duk.. duk … Yang piawai menumbuk lesung dengan alu, bak alunan angin di penghujung petang Sss… sss… sss.. atau dia yang tangannya melambai kukuh menampi di bawah kolom rumah pasca panen berlalu Sekali lagi perempuan abad 20 melambungkan Tanya pada titik sukmamu bukan akalmu Seperti apa perempuan inginmu dalam doa yang kau langitkan lelaki? Atau kau hempaskan pada bumi lewat sela-sela sejadah setiap jarum jam berhenti pada ketentuannya? Atau dia perempuan yang menabik setiap kau bersuah Dia? Perempuan, dengan naluri keibuan yang menyuguhhkan secangkir kopi? Bukankah memang, generalisasinya memandu kata berhenti pada kenyataan bahwa harimu hambar tanpa minuman pekat itu bukan? Bukan lagi air bening hasil getah alam. Inginmu adalah mata sayu...