Langsung ke konten utama

MASSENREMPULU




Aksara menindih daun-daun lontar
Manusia memintal Kapas jadi benang sejarah, menyimpul saluan nene
maka terbukalah pintu-pintu tabir peradaban lapa padang appa sulapa
Tempat Manusia berdiri menghadap empat penjuru mata angin
Tammaseung di Baroko membentang rarik disambung belajen
Diikatlah  daerah kekuasaannya “Lepong Padang”
Nene Matindo Dama di Lalono cidokkoi batu ariri
Masing-masing Pake duduk di bawah payung kerajaannya
Telunjuk Tangannya membangun kearifan dan Budaya

Kembali Aksara menindih kertas putih
Selisih abad terhitung dalam angka
Bahasa semakin terpahat, Kuda-Kuda berganti robot mesin masa kini
Kerbau tinggallah simbol, Peradaban terus menaiki tangga-tangga Puncak kemajuannya
Baroko dan Duri menyatu dalam padu “3 Batu Papan”
Duri, Enrekang dan Maiwa sitoe pala’ lima menyebut diri “Massenrempulu”

Massenrempulu  Tana Rigalla Tana Riabbusungi









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengabdian Guru

                       K ala dunia tidak jelih memandangmu             Kau menjerit, tapi melanting senyum untuk muridmu             Sekali lagi kau berhelat pada hati kecilmu yang berkata tidak             Muridmu   riang gembira sebab nyanyian yang kau suguhkan setiap pagi             Muridmu mencicipi rasa berharga akan tepuk tanganmu             Kau label mereka hebat cerdas dan berjuta sanjungan             Demi melihat muridmu, di masa yang akan datang sebagai Juara Tidakkah pemimpin negeri ini melihat ketegaranmu Menghitung berapa tetes keringat yang luruh Menyukat mi...

Kata-Kata

Aku yang tergila-gila karena kata-kata Sibuk menata kata seperti bermain puzlle Menghabiskan waktu bertemu aksara Menulis senja, purnama, cinta, dan rindu dalam narasi seperti mereka Aku luapkan semua isi nurani dan logikaku dalam kata-kata Meski kadang aku sendiri tak dapat menemukan makna Sebab ku buat serumit mungkin agar mata yang menjama buta makna Cukup aku yang tahu, namun pada kenyataan aku sendiri kehilangan makna Cukup menuruti judul puisi Wiji Tukul Kataku pun harus berbahasa “Istrahatlah Kata-Kata”                                                Harayaki Yosano
Apapun itu ... selama berwujud biru selama itupun bermuara ketenangan Hamparan Laut Hamparan Langit Walau diataranya ada yang tak nyata  Walau keduanya meminjam warna dari sinar sangsurya seperti Jingga pada senja yang menyapa Tak usah nelangsa sebab dalamnya ataupun karena luasnya Jangan berkutat ... sebab ilusi semesta memang seperti itu