Langsung ke konten utama

MASSENREMPULU




Aksara menindih daun-daun lontar
Manusia memintal Kapas jadi benang sejarah, menyimpul saluan nene
maka terbukalah pintu-pintu tabir peradaban lapa padang appa sulapa
Tempat Manusia berdiri menghadap empat penjuru mata angin
Tammaseung di Baroko membentang rarik disambung belajen
Diikatlah  daerah kekuasaannya “Lepong Padang”
Nene Matindo Dama di Lalono cidokkoi batu ariri
Masing-masing Pake duduk di bawah payung kerajaannya
Telunjuk Tangannya membangun kearifan dan Budaya

Kembali Aksara menindih kertas putih
Selisih abad terhitung dalam angka
Bahasa semakin terpahat, Kuda-Kuda berganti robot mesin masa kini
Kerbau tinggallah simbol, Peradaban terus menaiki tangga-tangga Puncak kemajuannya
Baroko dan Duri menyatu dalam padu “3 Batu Papan”
Duri, Enrekang dan Maiwa sitoe pala’ lima menyebut diri “Massenrempulu”

Massenrempulu  Tana Rigalla Tana Riabbusungi









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apapun itu ... selama berwujud biru selama itupun bermuara ketenangan Hamparan Laut Hamparan Langit Walau diataranya ada yang tak nyata  Walau keduanya meminjam warna dari sinar sangsurya seperti Jingga pada senja yang menyapa Tak usah nelangsa sebab dalamnya ataupun karena luasnya Jangan berkutat ... sebab ilusi semesta memang seperti itu

KEPINGAN KACA KENANGAN

A ku belum membuang kepingan kaca kenangan di hari itu Walau 2.690 hari atau 64.560 jam atau 3.873.600 menit telah berlalu Selama itu aku menyimpan kunang-kunang akhir Desember Binar sayapnya masih bersemayam di ranting alang-alang hatiku Yang kau titipkan semasa kita berseragam abu-abu Bukankah waktu itu begitu lama ? Bukankah di Penghujung Desember sama sekali aku tidak membuat janji? Bukankah di malam pergantian tahun itu kita hanya berbicara sebatas pengakuan? Tapi selama itu aku menjaga ucapan Karena aku tidak ingin jadi  PEMULUNG KATA Seperti katamu, seperti kata-kata yang kau baca, seperti kalimat dalam tumpukan bukumu bahwa “kata-kata yang berbuah ucapan bukan lagi milik bibirmu tapi milik telinga pendengarnya.” Seperti itu pula aku merawat Waaahhh … kian menumbuh, kita pun larut dalam pergolakan masa Tetap, aku ingin menjadi pendengar keluh kesahmu dan aku ingin kau tetap menjadi pendengar mimpi-mimpi gilaku Kian menumbuh lagi Kita yang hilang dalam rutinita...

Perempuan Bertanyak

Seperti apa perempuan inginmu dalam angan yang kau langitkan lelaki? Haruskah ia berparas ayu, menawan tatapmu dalam penjara matamu sendiri? Apakah ia perempuan Pelosok, bersimpai tradisi bersimpul adat? Duk.. duk.. duk … Yang piawai menumbuk lesung dengan alu, bak alunan angin di penghujung petang Sss… sss… sss.. atau dia yang tangannya melambai kukuh menampi di bawah kolom rumah pasca panen berlalu Sekali lagi perempuan abad 20 melambungkan Tanya pada titik sukmamu bukan akalmu Seperti apa perempuan inginmu dalam doa yang kau langitkan lelaki? Atau kau hempaskan pada bumi lewat sela-sela sejadah setiap jarum jam berhenti pada ketentuannya? Atau dia perempuan yang menabik setiap kau bersuah Dia? Perempuan, dengan naluri keibuan yang menyuguhhkan secangkir kopi? Bukankah memang, generalisasinya memandu kata berhenti pada kenyataan bahwa harimu hambar tanpa minuman pekat itu bukan? Bukan lagi air bening hasil getah alam. Inginmu adalah mata sayu...