Kau menjerit, tapi melanting senyum
untuk muridmu
Sekali lagi kau berhelat pada hati
kecilmu yang berkata tidak
Muridmu riang gembira sebab nyanyian yang kau suguhkan
setiap pagi
Muridmu mencicipi rasa berharga akan
tepuk tanganmu
Kau label mereka hebat cerdas dan
berjuta sanjungan
Demi melihat muridmu, di masa yang
akan datang sebagai Juara
Tidakkah
pemimpin negeri ini melihat ketegaranmu
Menghitung
berapa tetes keringat yang luruh
Menyukat
milliliter air matamu, bak air yang menghilir
Aku
tahu, kadang kau bergumam akan ketidakadilan ini
Pengabdianmu
yang tak terhargai, kendatipun kau relah
Tapi
realita di negeri ini, seluruhnya harus berbayar
Diantara simpul peliknya hidup
Kau
campakkan hatimu yang tersayat demi mengisi hati muridmu yang tumbuh
Diantara
penat berpaham hidup
Kau
rapikan kertas kusut muridmu
Dan
hari ini guru, aku mendapatimu sebagai penyulam senyum ulung

Komentar
Posting Komentar