Langsung ke konten utama

Pengabdian Guru


           
           Kala dunia tidak jelih memandangmu
            Kau menjerit, tapi melanting senyum untuk muridmu
            Sekali lagi kau berhelat pada hati kecilmu yang berkata tidak
            Muridmu  riang gembira sebab nyanyian yang kau suguhkan setiap pagi
            Muridmu mencicipi rasa berharga akan tepuk tanganmu
            Kau label mereka hebat cerdas dan berjuta sanjungan
            Demi melihat muridmu, di masa yang akan datang sebagai Juara

Tidakkah pemimpin negeri ini melihat ketegaranmu
Menghitung berapa tetes keringat yang luruh
Menyukat milliliter air matamu, bak air yang menghilir
Aku tahu, kadang kau bergumam akan ketidakadilan ini
Pengabdianmu yang tak terhargai, kendatipun kau relah
Tapi realita di negeri ini, seluruhnya harus berbayar

            Diantara simpul peliknya hidup
Kau campakkan hatimu yang tersayat demi mengisi hati muridmu yang tumbuh
Diantara penat berpaham hidup
Kau rapikan kertas kusut muridmu
Dan hari ini guru, aku mendapatimu sebagai penyulam senyum  ulung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apapun itu ... selama berwujud biru selama itupun bermuara ketenangan Hamparan Laut Hamparan Langit Walau diataranya ada yang tak nyata  Walau keduanya meminjam warna dari sinar sangsurya seperti Jingga pada senja yang menyapa Tak usah nelangsa sebab dalamnya ataupun karena luasnya Jangan berkutat ... sebab ilusi semesta memang seperti itu

KEPINGAN KACA KENANGAN

A ku belum membuang kepingan kaca kenangan di hari itu Walau 2.690 hari atau 64.560 jam atau 3.873.600 menit telah berlalu Selama itu aku menyimpan kunang-kunang akhir Desember Binar sayapnya masih bersemayam di ranting alang-alang hatiku Yang kau titipkan semasa kita berseragam abu-abu Bukankah waktu itu begitu lama ? Bukankah di Penghujung Desember sama sekali aku tidak membuat janji? Bukankah di malam pergantian tahun itu kita hanya berbicara sebatas pengakuan? Tapi selama itu aku menjaga ucapan Karena aku tidak ingin jadi  PEMULUNG KATA Seperti katamu, seperti kata-kata yang kau baca, seperti kalimat dalam tumpukan bukumu bahwa “kata-kata yang berbuah ucapan bukan lagi milik bibirmu tapi milik telinga pendengarnya.” Seperti itu pula aku merawat Waaahhh … kian menumbuh, kita pun larut dalam pergolakan masa Tetap, aku ingin menjadi pendengar keluh kesahmu dan aku ingin kau tetap menjadi pendengar mimpi-mimpi gilaku Kian menumbuh lagi Kita yang hilang dalam rutinita...