Langsung ke konten utama

KEPINGAN KACA KENANGAN







Aku belum membuang kepingan kaca kenangan di hari ituWalau 2.690 hari atau 64.560 jam atau 3.873.600 menit telah berlaluSelama itu aku menyimpan kunang-kunang akhir DesemberBinar sayapnya masih bersemayam di ranting alang-alang hatikuYang kau titipkan semasa kita berseragam abu-abuBukankah waktu itu begitu lama ?Bukankah di Penghujung Desember sama sekali aku tidak membuat janji?Bukankah di malam pergantian tahun itu kita hanya berbicara sebatas pengakuan?Tapi selama itu aku menjaga ucapanKarena aku tidak ingin jadi PEMULUNG KATASeperti katamu, seperti kata-kata yang kau baca, seperti kalimat dalam tumpukan bukumu bahwa “kata-kata yang berbuah ucapan bukan lagi milik bibirmu tapi milik telinga pendengarnya.”Seperti itu pula aku merawatWaaahhh … kian menumbuh, kita pun larut dalam pergolakan masaTetap, aku ingin menjadi pendengar keluh kesahmu dan aku ingin kau tetap menjadi pendengar mimpi-mimpi gilakuKian menumbuh lagiKita yang hilang dalam rutinitasKita yang melebur karena tanggung jawabTapi kita pula tetap merawat rasa yang kian tumbuh lewat banyak baca.Sepintas lalu aku mencuri kata Pramoedya Ananta Toer “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun”                       KARENA ... Dari semua hal-hal kecil itu aku belajar bahwa “merawat adalah cara terbaik untuk tetap bersama”                                                                      Harayaki Yosano

                                                                                                      Makassar, 15 Mei 2018


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengabdian Guru

                       K ala dunia tidak jelih memandangmu             Kau menjerit, tapi melanting senyum untuk muridmu             Sekali lagi kau berhelat pada hati kecilmu yang berkata tidak             Muridmu   riang gembira sebab nyanyian yang kau suguhkan setiap pagi             Muridmu mencicipi rasa berharga akan tepuk tanganmu             Kau label mereka hebat cerdas dan berjuta sanjungan             Demi melihat muridmu, di masa yang akan datang sebagai Juara Tidakkah pemimpin negeri ini melihat ketegaranmu Menghitung berapa tetes keringat yang luruh Menyukat mi...

Kata-Kata

Aku yang tergila-gila karena kata-kata Sibuk menata kata seperti bermain puzlle Menghabiskan waktu bertemu aksara Menulis senja, purnama, cinta, dan rindu dalam narasi seperti mereka Aku luapkan semua isi nurani dan logikaku dalam kata-kata Meski kadang aku sendiri tak dapat menemukan makna Sebab ku buat serumit mungkin agar mata yang menjama buta makna Cukup aku yang tahu, namun pada kenyataan aku sendiri kehilangan makna Cukup menuruti judul puisi Wiji Tukul Kataku pun harus berbahasa “Istrahatlah Kata-Kata”                                                Harayaki Yosano
Apapun itu ... selama berwujud biru selama itupun bermuara ketenangan Hamparan Laut Hamparan Langit Walau diataranya ada yang tak nyata  Walau keduanya meminjam warna dari sinar sangsurya seperti Jingga pada senja yang menyapa Tak usah nelangsa sebab dalamnya ataupun karena luasnya Jangan berkutat ... sebab ilusi semesta memang seperti itu