Seperti apa perempuan inginmu dalam angan yang kau langitkan lelaki?
Haruskah ia berparas ayu, menawan tatapmu dalam penjara matamu sendiri?
Apakah ia perempuan Pelosok, bersimpai tradisi bersimpul adat?
Duk.. duk.. duk …
Yang piawai menumbuk lesung dengan alu, bak alunan angin di penghujung petang
Sss… sss… sss..
atau dia yang tangannya melambai kukuh menampi di bawah kolom rumah pasca panen berlalu
Sekali lagi perempuan abad 20 melambungkan Tanya pada titik sukmamu bukan akalmu
Seperti apa perempuan inginmu dalam doa yang kau langitkan lelaki?
Atau kau hempaskan pada bumi lewat sela-sela sejadah setiap jarum jam berhenti pada ketentuannya?
Atau dia perempuan yang menabik setiap kau bersuah
Dia? Perempuan, dengan naluri keibuan yang menyuguhhkan secangkir kopi?
Bukankah memang, generalisasinya memandu kata berhenti pada kenyataan bahwa harimu hambar tanpa minuman pekat itu bukan? Bukan lagi air bening hasil getah alam.
Inginmu adalah mata sayumu memandang purnama, yang satu malam lagi bentuknya pupus karena matahari
Inginmu kadang ambigu
Yang tak sedikit bunga-bunga Desa memoles rupa agar elok
Yang tak sedikit perempuan menumpahkan tanya pada larik-larik puisi
Harayaki Yosano

Komentar
Posting Komentar