Langsung ke konten utama

Perempuan Bertanyak






Seperti apa perempuan inginmu dalam angan yang kau langitkan lelaki?
Haruskah ia berparas ayu, menawan tatapmu dalam penjara matamu sendiri?
Apakah ia perempuan Pelosok, bersimpai tradisi bersimpul adat?
Duk.. duk.. duk …
Yang piawai menumbuk lesung dengan alu, bak alunan angin di penghujung petang
Sss… sss… sss..
atau dia yang tangannya melambai kukuh menampi di bawah kolom rumah pasca panen berlalu

Sekali lagi perempuan abad 20 melambungkan Tanya pada titik sukmamu bukan akalmu
Seperti apa perempuan inginmu dalam doa yang kau langitkan lelaki?
Atau kau hempaskan pada bumi lewat sela-sela sejadah setiap jarum jam berhenti pada ketentuannya?
Atau dia perempuan yang menabik setiap kau bersuah
Dia? Perempuan, dengan naluri keibuan yang menyuguhhkan secangkir kopi?
Bukankah memang, generalisasinya memandu kata berhenti pada kenyataan bahwa harimu hambar tanpa minuman pekat itu bukan? Bukan lagi air bening hasil getah alam.
Inginmu adalah mata sayumu memandang purnama, yang satu malam lagi bentuknya pupus karena matahari

Inginmu kadang ambigu
Yang tak sedikit bunga-bunga Desa memoles rupa agar elok
Yang tak sedikit perempuan menumpahkan tanya pada larik-larik puisi   

                                                                                                                                                                                                                                                                                  Harayaki Yosano
                                                                               

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengabdian Guru

                       K ala dunia tidak jelih memandangmu             Kau menjerit, tapi melanting senyum untuk muridmu             Sekali lagi kau berhelat pada hati kecilmu yang berkata tidak             Muridmu   riang gembira sebab nyanyian yang kau suguhkan setiap pagi             Muridmu mencicipi rasa berharga akan tepuk tanganmu             Kau label mereka hebat cerdas dan berjuta sanjungan             Demi melihat muridmu, di masa yang akan datang sebagai Juara Tidakkah pemimpin negeri ini melihat ketegaranmu Menghitung berapa tetes keringat yang luruh Menyukat mi...

Kata-Kata

Aku yang tergila-gila karena kata-kata Sibuk menata kata seperti bermain puzlle Menghabiskan waktu bertemu aksara Menulis senja, purnama, cinta, dan rindu dalam narasi seperti mereka Aku luapkan semua isi nurani dan logikaku dalam kata-kata Meski kadang aku sendiri tak dapat menemukan makna Sebab ku buat serumit mungkin agar mata yang menjama buta makna Cukup aku yang tahu, namun pada kenyataan aku sendiri kehilangan makna Cukup menuruti judul puisi Wiji Tukul Kataku pun harus berbahasa “Istrahatlah Kata-Kata”                                                Harayaki Yosano
Apapun itu ... selama berwujud biru selama itupun bermuara ketenangan Hamparan Laut Hamparan Langit Walau diataranya ada yang tak nyata  Walau keduanya meminjam warna dari sinar sangsurya seperti Jingga pada senja yang menyapa Tak usah nelangsa sebab dalamnya ataupun karena luasnya Jangan berkutat ... sebab ilusi semesta memang seperti itu