Langsung ke konten utama

harap

segaris tulisan tak berjudul
yg  ditumpahkan pada larik-larik puisi 
Bisu makna, cukup tereja 
yg ditata sedemikian hingga tak lain dan tak bukan hanya untuk aksara menindih selembar kertas putih
"di Suatu waktu berselimut hitam ...
menuntut kata berpijak pd HARAP:
Q harap dibawah bintang yg sama
ada mata anak Adam
membaca pola rasi, wujud manipestasi tubuh Tuhan yg abstrak 
Q harap indra anak Adam terpagar iman 
bak rebung bambu yg terpagar oleh dirinya sendiri walau dalam  wujud yg tak sama
Q harap jua pada suatu waktu berselimut hitam
ada anak Hawa 
menyulam makna
dari riuhnya hempasan angin sepoi membentur alam."
           
                                                                                                         Harayaki Yosano
                                                                                                         Bung 10/05/18
       





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengabdian Guru

                       K ala dunia tidak jelih memandangmu             Kau menjerit, tapi melanting senyum untuk muridmu             Sekali lagi kau berhelat pada hati kecilmu yang berkata tidak             Muridmu   riang gembira sebab nyanyian yang kau suguhkan setiap pagi             Muridmu mencicipi rasa berharga akan tepuk tanganmu             Kau label mereka hebat cerdas dan berjuta sanjungan             Demi melihat muridmu, di masa yang akan datang sebagai Juara Tidakkah pemimpin negeri ini melihat ketegaranmu Menghitung berapa tetes keringat yang luruh Menyukat mi...
Apapun itu ... selama berwujud biru selama itupun bermuara ketenangan Hamparan Laut Hamparan Langit Walau diataranya ada yang tak nyata  Walau keduanya meminjam warna dari sinar sangsurya seperti Jingga pada senja yang menyapa Tak usah nelangsa sebab dalamnya ataupun karena luasnya Jangan berkutat ... sebab ilusi semesta memang seperti itu

KEPINGAN KACA KENANGAN

A ku belum membuang kepingan kaca kenangan di hari itu Walau 2.690 hari atau 64.560 jam atau 3.873.600 menit telah berlalu Selama itu aku menyimpan kunang-kunang akhir Desember Binar sayapnya masih bersemayam di ranting alang-alang hatiku Yang kau titipkan semasa kita berseragam abu-abu Bukankah waktu itu begitu lama ? Bukankah di Penghujung Desember sama sekali aku tidak membuat janji? Bukankah di malam pergantian tahun itu kita hanya berbicara sebatas pengakuan? Tapi selama itu aku menjaga ucapan Karena aku tidak ingin jadi  PEMULUNG KATA Seperti katamu, seperti kata-kata yang kau baca, seperti kalimat dalam tumpukan bukumu bahwa “kata-kata yang berbuah ucapan bukan lagi milik bibirmu tapi milik telinga pendengarnya.” Seperti itu pula aku merawat Waaahhh … kian menumbuh, kita pun larut dalam pergolakan masa Tetap, aku ingin menjadi pendengar keluh kesahmu dan aku ingin kau tetap menjadi pendengar mimpi-mimpi gilaku Kian menumbuh lagi Kita yang hilang dalam rutinita...