Langsung ke konten utama

Kunang-Kunang Penghujung Desember


Di penghujung Desember,
Ada Tarian kunang-kunang  menyentuh gelapnya malam
Hadirkan pancaran kuning  sebagai penghibur hitam yang kesepian
Mengantar tabir fantasi malam 

Di Desa ini, dibawah atap langit
Berdinding gunung  menjulang tinggi
Ada sepasang kekasih belajar merangkai deretan aksara untuk berucap bahasa cinta
Seperti bahasa Khadijah pada Muhammad
Seperti Bahasa Dewi  Cliodhna pada Ciabahn
Sama seperti semesta berbicara pada kehidupan  yang membuatnya berarti
Sama seperti bahasa hujan pada Bumi yang membuatnya hidup
Dan sama seperti bahasa tinta pada kertas yang membuatnya berbicara

Kunang-kunang penghujung Desember
Saksi sepasang kekasih yang berucap pengakuan

                                                                                                        harayaki yosano                                                                                                                 
                                                                                                        Desember  2011








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apapun itu ... selama berwujud biru selama itupun bermuara ketenangan Hamparan Laut Hamparan Langit Walau diataranya ada yang tak nyata  Walau keduanya meminjam warna dari sinar sangsurya seperti Jingga pada senja yang menyapa Tak usah nelangsa sebab dalamnya ataupun karena luasnya Jangan berkutat ... sebab ilusi semesta memang seperti itu

KEPINGAN KACA KENANGAN

A ku belum membuang kepingan kaca kenangan di hari itu Walau 2.690 hari atau 64.560 jam atau 3.873.600 menit telah berlalu Selama itu aku menyimpan kunang-kunang akhir Desember Binar sayapnya masih bersemayam di ranting alang-alang hatiku Yang kau titipkan semasa kita berseragam abu-abu Bukankah waktu itu begitu lama ? Bukankah di Penghujung Desember sama sekali aku tidak membuat janji? Bukankah di malam pergantian tahun itu kita hanya berbicara sebatas pengakuan? Tapi selama itu aku menjaga ucapan Karena aku tidak ingin jadi  PEMULUNG KATA Seperti katamu, seperti kata-kata yang kau baca, seperti kalimat dalam tumpukan bukumu bahwa “kata-kata yang berbuah ucapan bukan lagi milik bibirmu tapi milik telinga pendengarnya.” Seperti itu pula aku merawat Waaahhh … kian menumbuh, kita pun larut dalam pergolakan masa Tetap, aku ingin menjadi pendengar keluh kesahmu dan aku ingin kau tetap menjadi pendengar mimpi-mimpi gilaku Kian menumbuh lagi Kita yang hilang dalam rutinita...

Perempuan Bertanyak

Seperti apa perempuan inginmu dalam angan yang kau langitkan lelaki? Haruskah ia berparas ayu, menawan tatapmu dalam penjara matamu sendiri? Apakah ia perempuan Pelosok, bersimpai tradisi bersimpul adat? Duk.. duk.. duk … Yang piawai menumbuk lesung dengan alu, bak alunan angin di penghujung petang Sss… sss… sss.. atau dia yang tangannya melambai kukuh menampi di bawah kolom rumah pasca panen berlalu Sekali lagi perempuan abad 20 melambungkan Tanya pada titik sukmamu bukan akalmu Seperti apa perempuan inginmu dalam doa yang kau langitkan lelaki? Atau kau hempaskan pada bumi lewat sela-sela sejadah setiap jarum jam berhenti pada ketentuannya? Atau dia perempuan yang menabik setiap kau bersuah Dia? Perempuan, dengan naluri keibuan yang menyuguhhkan secangkir kopi? Bukankah memang, generalisasinya memandu kata berhenti pada kenyataan bahwa harimu hambar tanpa minuman pekat itu bukan? Bukan lagi air bening hasil getah alam. Inginmu adalah mata sayu...