Langsung ke konten utama

Postingan

KITA YANG ANEH Babak baru dunia di mulai Manusia memintal peradaban imajiner menuju punah Dengan benang-benang digital Cendekiawan, Akademikus dan Politikus semuanya berdenyut huruf dan angka Pena dan kertas beradu kelincahan mengukir perubahan Nama-nama manusia pun semakin bergelar A hingga Z Ditaburi titik dan koma yang berpangkat-pangkat Semuanya terleka dalam kata “inovasi”   Terlena dan terintegral dalam bius akal Jantung dunia bukan lagi hutan tropis Tapi sesuatu yang abstrak Yang memborbardir individualisme Berserakan seperti kepingan kaca yang tak dapat disatukan lagi Tatanan bumi kita menuju planet baru diluar galaksi Tampa pohon, Air yang diwarnai, Tubuh yang disolek dengan ujung rupa monster dan boneka Tapi kita bangga akan hal itu Aneh, kita bersorak riah menggaungkan Aneh tapi bungkam seribu bahasa akan tindakan Lidah-lidah kita fasih   Namun kedua kaki dan tangan lumpuh Dan anehnya tak ada dokter yang mampu menyemb...
Postingan terbaru

Pengabdian Guru

                       K ala dunia tidak jelih memandangmu             Kau menjerit, tapi melanting senyum untuk muridmu             Sekali lagi kau berhelat pada hati kecilmu yang berkata tidak             Muridmu   riang gembira sebab nyanyian yang kau suguhkan setiap pagi             Muridmu mencicipi rasa berharga akan tepuk tanganmu             Kau label mereka hebat cerdas dan berjuta sanjungan             Demi melihat muridmu, di masa yang akan datang sebagai Juara Tidakkah pemimpin negeri ini melihat ketegaranmu Menghitung berapa tetes keringat yang luruh Menyukat mi...

MASSENREMPULU

Aksara menindih daun-daun lontar Manusia memintal Kapas jadi benang sejarah, menyimpul saluan nene maka terbukalah pintu-pintu tabir peradaban lapa padang appa sulapa Tempat Manusia berdiri menghadap empat penjuru mata angin Tammaseung di Baroko membentang rarik disambung belajen Diikatlah    daerah kekuasaannya “Lepong Padang” Nene Matindo Dama di Lalono  cidokkoi batu ariri Masing-masing Pake duduk di bawah payung kerajaannya Telunjuk Tangannya membangun kearifan dan Budaya Kembali Aksara menindih kertas putih Selisih abad terhitung dalam angka Bahasa semakin terpahat, Kuda-Kuda berganti robot mesin masa kini Kerbau tinggallah simbol, Peradaban terus menaiki tangga-tangga Puncak kemajuannya Baroko dan Duri menyatu dalam padu “3 Batu Papan” Duri, Enrekang dan Maiwa  sitoe pala’ lima  menyebut diri “Massenrempulu” Massenrempulu    Tana Rigalla Tana Riabbusungi
Aku mencintaimu dalam buku Menyebut namamu pada lembar-lembar baru Dalam dekapan kata-kata Tanpa berhenti tiap bersua titik Tanpa menanya saat tanda Tanya tiba Dan tetap menyeruh saat tanda seruh memerintah Karena aku paham selama aku membaca aku akan bertemu cinta Meski kebencian mendera Karena aku paham selama aku berlanjut aku tidak akan berakhir kehilangan kisah  Aku menemukan cinta dalam buku selamat hari buku Nasional                                                                                                                                    Harayaki Yosano                  ...

Kata-Kata

Aku yang tergila-gila karena kata-kata Sibuk menata kata seperti bermain puzlle Menghabiskan waktu bertemu aksara Menulis senja, purnama, cinta, dan rindu dalam narasi seperti mereka Aku luapkan semua isi nurani dan logikaku dalam kata-kata Meski kadang aku sendiri tak dapat menemukan makna Sebab ku buat serumit mungkin agar mata yang menjama buta makna Cukup aku yang tahu, namun pada kenyataan aku sendiri kehilangan makna Cukup menuruti judul puisi Wiji Tukul Kataku pun harus berbahasa “Istrahatlah Kata-Kata”                                                Harayaki Yosano
Apapun itu ... selama berwujud biru selama itupun bermuara ketenangan Hamparan Laut Hamparan Langit Walau diataranya ada yang tak nyata  Walau keduanya meminjam warna dari sinar sangsurya seperti Jingga pada senja yang menyapa Tak usah nelangsa sebab dalamnya ataupun karena luasnya Jangan berkutat ... sebab ilusi semesta memang seperti itu

KEPINGAN KACA KENANGAN

A ku belum membuang kepingan kaca kenangan di hari itu Walau 2.690 hari atau 64.560 jam atau 3.873.600 menit telah berlalu Selama itu aku menyimpan kunang-kunang akhir Desember Binar sayapnya masih bersemayam di ranting alang-alang hatiku Yang kau titipkan semasa kita berseragam abu-abu Bukankah waktu itu begitu lama ? Bukankah di Penghujung Desember sama sekali aku tidak membuat janji? Bukankah di malam pergantian tahun itu kita hanya berbicara sebatas pengakuan? Tapi selama itu aku menjaga ucapan Karena aku tidak ingin jadi  PEMULUNG KATA Seperti katamu, seperti kata-kata yang kau baca, seperti kalimat dalam tumpukan bukumu bahwa “kata-kata yang berbuah ucapan bukan lagi milik bibirmu tapi milik telinga pendengarnya.” Seperti itu pula aku merawat Waaahhh … kian menumbuh, kita pun larut dalam pergolakan masa Tetap, aku ingin menjadi pendengar keluh kesahmu dan aku ingin kau tetap menjadi pendengar mimpi-mimpi gilaku Kian menumbuh lagi Kita yang hilang dalam rutinita...